Sabtu, 12 Desember 2009
Oya.. sudah hampir dua bulan ini ayahnya Ica tugas ke Bengkulu, jadi pastinya pas malam hari Ica bersama aku.
Rabu, 12 Agustus 2009
Antar Ica Sekolah
Sabtu, 08 Agustus 2009
Happy Birthday to Ica
Selasa, 14 Juli 2009
Tentang Penyakit Gondongan
Penyakit Gondongan
Penyakit Gondongan (Mumps atau Parotitis) adalah suatu penyakit menular dimana sesorang terinfeksi oleh virus (Paramyxovirus) yang menyerang kelenjar ludah (kelenjar parotis) di antara telinga dan rahang sehingga menyebabkan pembengkakan pada leher bagian atas atau pipi bagian bawah.
Penyakit gondongan tersebar di seluruh dunia dan dapat timbul secara endemic atau epidemik, Gangguan ini cenderung menyerang anak-anak yang berumur 2-12 tahun. Pada orang dewasa, infeksi ini bisa menyerang testis (buah zakar), sistem saraf pusat, pankreas, prostat, payudara dan organ lainnya.
Adapun mereka yang beresiko besar untuk menderita atau tertular penyakit ini adalah mereka yang menggunakan atau mengkonsumsi obat-obatan tertentu untuk menekan hormon kelenjar tiroid dan mereka yang kekurangan zat Iodium dalam tubuh.
· Penularan Penyakit Gondongan
Penyakit Gondong (Mumps atau Parotitis) penyebaran virus dapat ditularkan melalui kontak langsung, percikan ludah, bahan muntah, mungkin dengan urin. Virus dapat ditemukan dalam urin dari hari pertama sampai hari keempat belas setelah terjadi pembesaran kelenjar.
Penyakit gondongan sangat jarang ditemukan pada anak yang berumur kurang dari 2 tahun, hal tersebut karena umumnya mereka masih memiliki atau dilindungi oleh anti bodi yang baik. Seseorang yang pernah menderita penyakit gondongan, maka dia akan memiliki kekebalan seumur hidupnya.
· Tanda dan Gejala Penyakit Gondongan
Tidak semua orang yang terinfeksi oleh virus Paramyxovirus mengalami keluhan, bahkan sekitar 30-40% penderita tidak menunjukkan tanda-tanda sakit (subclinical). Namun demikian mereka sama dengan penderita lainnya yang mengalami keluhan, yaitu dapat menjadi sumber penularan penyakit tersebut.
Masa tunas (masa inkubasi) penyakit Gondong sekitar 12-24 hari dengan rata-rata 17-18 hari. Adapun tanda dan gejala yang timbul setelah terinfeksi dan berkembangnya masa tunas dapat digambarkan sdebagai berikut :
- Pada tahap awal (1-2 hari) penderita Gondong mengalami gejala: demam (suhu badan 38.5 – 40 derajat celcius), sakit kepala, nyeri otot, kehilangan nafsu makan, nyeri rahang bagian belakang saat mengunyah dan adakalanya disertai kaku rahang (sulit membuka mulut).
- Selanjutnya terjadi pembengkakan kelenjar di bawah telinga (parotis) yang diawali dengan pembengkakan salah satu sisi kelenjar kemudian kedua kelenjar mengalami pembengkakan.
- Pembengkakan biasanya berlangsung sekitar 3 hari kemudian berangsur mengempis.
- Kadang terjadi pembengkakan pada kelenjar di bawah rahang (submandibula) dan kelenjar di bawah lidah (sublingual). Pada pria akil balik adalanya terjadi pembengkakan buah zakar (testis) karena penyebaran melalui aliran darah.
· Diagnosis Penyakit Gondongan (Mumps atau Parotitis)
Diagnosis ditegakkan bila jelas ada gejala infeksi parotitis epidemika pada pemeirksaan fisis, termasuk keterangan adanya kontak dengan penderita penyakit gondong (Mumps atau Parotitis) 2-3 minggu sebelumnya. Selain itu adalah dengan tindakan pemeriksaan hasil laboratorium air kencing (urin) dan darah.
· Pemeriksaan Laboratorium
Disamping leucopenia dengan limfosiotsis relative, didapatkan pula kenaikan kadar amylase dengan serum yang mencapai puncaknya setelah satu minggu dan kemudian menjadi normal kembali dalam dua minggu.
Jika penderita tidak menampakkan pembengkakan kelenjar dibawah telinga, namun tanda dan gejala lainnya mengarah ke penyakit gondongan sehingga meragukan diagnosa. Dokter akan memberikan order untuk dilakukannya pemeriksaan lebih lanjut seperti serum darah. Sekurang-kurang ada 3 uji serum (serologic) untuk membuktikan spesifik mumps antibodies: Complement fixation antibodies (CF), Hemagglutination inhibitor antibodies (HI), Virus neutralizing antibodies (NT).
· Komplikasi Akibat Penyakit Gondongan
Hampir semua anak yang menderita gondongan akan pulih total tanpa penyulit, tetapi kadang gejalanya kembali memburuk setelah sekitar 2 minggu. Keadaan seperti ini dapat menimbulkan komplikasi, dimana virus dapat menyerang organ selain kelenjar liur. Hal tersebut mungkin terjadi terutama jika infeksi terjadi setelah masa pubertas.
Dibawah ini komplikasi yang dapat terjadi akibat penanganan atau pengobatan yang kurang dini :
- Orkitis ; peradangan pada salah satu atau kedua testis. Setelah sembuh, testis yang terkena mungkin akan menciut. Jarang terjadi kerusakan testis yang permanen sehingga terjadi kemandulan.
- Ovoritis : peradangan pada salah satu atau kedua indung telus. Timbul nyeri perut yang ringan dan jarang menyebabkan kemandulan.
- Ensefalitis atau meningitis : peradangan otak atau selaput otak. Gejalanya berupa sakit kepala, kaku kuduk, mengantuk, koma atau kejang. 5-10% penderita mengalami meningitis dan kebanyakan akan sembuh total. 1 diantara 400-6.000 penderita yang mengalami enserfalitis cenderung mengalami kerusakan otak atau saraf yang permanen, seperti ketulian atau kelumpuhan otot wajah.
- Pankreatitis : peradangan pankreas, bisa terjadi pada akhir minggu pertama. Penderita merasakan mual dan muntah disertai nyeri perut. Gejala ini akan menghilang dalam waktu 1 minggu dan penderita akan sembuh total.
- Peradangan ginjal bisa menyebabkan penderita mengeluarkan air kemih yang kental dalam jumlah yang banyak
- Peradangan sendi bisa menyebabkan nyeri pada satu atau beberapa sendi.
· Pengobatan Penyakit Gondongan
Pengobatan ditujukan untuk mengurangi keluhan (simptomatis) dan istirahat selama penderita panas dan kelenjar (parotis) membengkak. Dapat digunakan obat pereda panas dan nyeri (antipiretik dan analgesik) misalnya Parasetamol dan sejenisnya, Aspirin tidak boleh diberikan kepada anak-anak karena memiliki resiko terjadinya sindroma Reye (Pengaruh aspirin pada anak-anak).
Pada penderita yang mengalami pembengkakan testis, sebaiknya penderita menjalani istirahat tirah baring ditempat tidur. Rasa nyeri dapat dikurangi dengan melakukan kompres Es pada area testis yang membengkak tersebut. Sedangkan penderita yang mengalami serangan virus apada organ pancreas (pankreatitis), dimana menimbulkan gejala mual dan muntah sebaiknya diberikan cairan melalui infus.
Pemberian kortikosteroid selama 2-4 hari dan 20 ml convalescent gammaglobulin diperkirakan dapat mencegah terjadinya orkitis. Terhadap virus itu sendiri tidak dapat dipengaruhi oleh anti mikroba, sehingga Pengobatan hanya berorientasi untuk menghilangkan gejala sampai penderita kembali baik dengan sendirinya.
Penyakit gondongan sebenarnya tergolong dalam "self limiting disease" (penyakit yg sembuh sendiri tanpa diobati). Penderita penyakit gondongan sebaiknya menghindarkan makanan atau minuman yang sifatnya asam supaya nyeri tidak bertambah parah, diberikan diet makanan cair dan lunak.
Jika pada jaman dahulu penderita gondongan diberikan blau (warna biru untuk mencuci pakaian), sebenarnya itu secara klinis tidak ada hubungannya. Kemungkinan besar hanya agar anak yang terkena penyakit Gondongan ini malu jika main keluar dengan wajah belepotan blau, sehingga harapannya anak tersebut istirahat dirumah yang cukup untuk membantu proses kesembuhan.
· Pencegahan Penyakit Gondongan (Mumps/Parotitis)
Pemberian vaksinasi gondongan merupakan bagian dari imunisasi rutin pada masa kanak-kanak, yaitu imunisasi MMR (mumps, morbili, rubela) yang diberikan melalui injeksi pada usia 15 bulan.
Imunisasi MMR dapat juga diberikan kepada remaja dan orang dewasa yang belum menderita Gondong. Pemberian imunisasi ini tidak menimbulkan efek apanas atau gejala lainnya. Cukup mengkonsumsi makanan yang mengandung kadar Iodium, dapat mengurangi resiko terkena serangan penyakit gondongan.
Gondongan
Tapi sekarang Ica sudah kembali sehat, makannya pun banyak, ceria, lincah, dan aku senang.
Senin, 01 Juni 2009
Ica Masuk Sekolah
Hari Sabtu, 23 Mei 2009 lalu, waktu pertama Ica masuk sekolah. Ica bersekolah di Kelompok Bermain dekat rumah. Jadwalnya seminggu sekali, yaitu setiap hari Sabtu yang dimulai dari jam 08.00 - 10.00. Berhubung Sabtu adalah hari aku kuliah, maka Ica bersekolah ditemani ayahnya. Dan aku mendapat cerita dari ayahnya bagaimana Ica di sekolah. Selama di sekolah, Ica bermain dengan teman-temannya, belajar menyanyi, senam, mengenal sesuatu benda, bermain perosotan atau ayunan.
Hari pertama Ica sekolah, Ica belum langsung betah berada di sekolahnya itu. Ica minta pulang duluan, dan itu pun dengan menangis. Tapi minggu berikutnya Ica sekolah, Ica sudah bisa menikmati dengan apa yang ada di sana. Ica betah sampai selesai jadwal sekolah, pulang dengan santai bergandengan dengan ayahnya sambil menggendong tas ranselnya. Lucu dehhh. Kapan ya, aku bisa mengantar Ica sekolah?? Yang pasti, aku menyiapkan semua keperluan Ica sekolah. Jadi sebelum berangkat kuliah, aku menyiapkan baju, sepatu, tas, dan bekal Ica untuk sekolah.
Salah satu tujuan aku menyekolahkan Ica adalah supaya Ica bermain, mempunyai teman banyak, dan bisa bergaul. Selama ini kan Ica ditemani oleh orang yang itu-itu saja, yaitu aku, ayahnya, dan mbaknya. Hanya sesekali main dengan tetangga.
Dengan bersekolah di sini, moga-moga Ica semakin aktif, lincah, pandai bergaul, pintar bicara, dan senang sebagai modal untuk sekolah formal nantinya. Jadilah anak yang pintar, ya, nak!!!
Minggu, 10 Mei 2009
Curhatku tentang Ica
Ada satu hal yang membuat aku sedih dan kuatir terhadap perkembangan Ica, karena pada usianya sekarang ini Ica belum bisa bicara yang jelas satu kata pun. Bicaranya masih mengoceh, 'ga bisa dimengerti. Aku cari informasi mengenai terapi bicara anak dengan browsing di internet, hasilnya aku semakin sedih dan kuatir.
Aku langsung kirim sms pada ayahnya Ica mengenai perasaanku ini, dia menenangkan hatiku untuk tidak perlu kuatir, karena perkembangan setiap anak adalah berbeda. Teori itu yang sedikit membuat hatiku tenang.
Kamis, 26 Maret 2009
Kasus Bunuh Diri pada Anak Usia SD
Masyarakat
Berbagai pertanyaan yang muncul di benak para simpatisannya. Mengapa seorang anak usia sekolah dasar yang notabene masih terbilang “kecil” bisa melakukan perbuatan yang nekad seperti itu? Dijelaskan bahwa perbuatan itu terjadi karena hal yang sepele. Si anak merasa malu terhadap teman-temannya di sekolah karena hanya dia yang belum membayar iuran keperluan sekolah yang besarnya beberapa ribu rupiah saja. Hal ini mungkin sepele, tapi sepele menurut siapa? Apakah sepele menurut si anak itu atau menurut sepele orang lain?
Apapun jawabannya, tetap si anak itu terlanjur melakukannya. Beruntung, dia masih bisa diselamatkan dari kematian yang hampir menjemputnya. Namun, ada dampak negatif yang cukup serius yang menimpanya. Terdapat organ-organ penting yang sangat sulit disembuhkan. Tapi si anak memang beruntung lagi. Dengan simpati yang banyak berdatangan, keluarganya dapat membawa si anak untuk melakukan pengobatan secara intensif. Bahkan keluarganya pun menjadi lebih ”makmur.”
Sekitar setahun setelah peristiwa itu, peristiwa serupa kembali terjadi. Penyebabnya pun karena hal yang sepele. Si anak merasa malu terhadap teman-temannya di sekolah. Simpati pun kembali berdatangan meskipun tidak se-heboh peristiwa pertama.
Masih dalam tahun yang sama, peristiwa serupa terjadi kembali. Lagi dan lagi, pertanyaan yang sama terucap dari banyak pihak. Mengapa seorang anak bisa melakukan perbuatan yang nekad seperti itu? Miris memang, seorang anak yang seharusnya leluasa mengembangkan dirinya malah terbersit dalam hatinya untuk berbuat nekad dan sungguh-sungguh melakukannya. Tercatat sekitar empat peristiwa serupa dalam kurun waktu yang relatif singkat. Ada apa dengan anak-anak Indonesia?
Berdasarkan beberapa peristiwa tersebut, terdapat benang merah yang mungkin menjadi penyebabnya. Anak adalah seseorang yang dengan mudahnya melakukan imitasi terhadap hal yang dilihat dan didengar di sekitarnya. Biasanya perbuatan nekad bunuh diri dilakukan oleh orang dewasa, yang notabene telah mengerti arti hidup. Oleh si anak, perbuatan nekad itu dipikirnya sebagai jalan keluar dari permasalahan yang dihadapinya. ”Saya tidak akan merasa malu lagi kalau sudah tidak ada di sini,” mungkin begitulah pikirnya. Ditambah dengan kurangnya perhatian dari pihak orang tua, si anak menjadi semakin putus asa menghadapi masalahnya. Namun tak dapat dipungkiri bahwa pihak orang tua pun mempunyai banyak permasalahan, biasanya masalah ekonomi mereka sehingga kurang sempat memperhatikan anak-anaknya. Terlebih lagi mereka kurang begitu concern dalam hal pendidikan karena menurut mereka hal itu kurang penting. Jangankan memikirkan pendidikan anak, untuk memikirkan cara mendapatkan uang saja para orang tua itu sudah merasa susah. Alasan mereka pun bisa diterima oleh akal. Mereka ”sibuk” mencari uang untuk memenuhi hidup keluarganya, dengan demikian mereka sedikit melupakan hakekat anak untuk tumbuh dan kembang menjadi pribadi yang harmonis. Dari beberapa peristiwa yang terjadi di atas, si anak memang berasal dari keluarga dengan tingkat ekonomi yang rendah.
Simpati yang berlebihan terhadap korban dan keluarganya bisa menjadi inspirasi bagi orang lain, dalam hal ini bagi anak si calon pelaku perbuatan nekad. Artinya, pernah terjadi peristiwa perbuatan nekad yang dilakukan oleh seorang anak yang kemudian menjadi inspirasi bagi anak lain untuk melakukan hal serupa. Faktor mencari perhatian dari pihak-pihak yang selama ini kurang memperhatikan menjadi penyebabnya. Diharapkan akan ada perhatian dan rasa simpati dari banyak orang apabila melakukan perbuatan yang sama seperti yang diketahuinya dari peristiwa sebelumnya. Sungguh dilematis, sebuah berita yang seharusnya menjadi infomasi sebagai bahan pengetahuan dan pembelajaran bagi khalayak, malah disalahartikan oleh si anak.
Peristiwa perbuatan nekad yang dilakukan oleh seorang anak usia sekolah dasar sudah lama terjadi. Biarlah hal itu menjadi bahan pembelajaran bagi para pemegang wewenang dalam menentukan suatu kebijakan. Mudah-mudahan peristiwa serupa tidak terjadi lagi di masa yang akan datang. Terlebih di masa sekarang ini telah ada kebijakan pemerintah melalui program dana bos bagi semua anak sekolah seluruh Indonesia. Diharapkan anak-anak Indonesia dapat dengan leluasa bersekolah tanpa harus dibebani dengan berbagai iuran yang memberatkan orang tuanya. Dengan demikian, anak-anak Indonesia dapat dengan leluasa mengembangkan dirinya untuk menghadapi hari esoknya.