Piala pertama untuk Ica sebagai peserta Lomba Mewarnai antar PAUD se-Kecamatan Pulogadung. Pelaksanaan acaranya tanggal 2 Desember yg lalu. Bagus juga, piala ini diberikan oleh pihak sekolah sebagai bentuk penghargaan kepada para siswa yang telah mengikuti acara tersebut. Meskipun bukan piala kemenangan, tapi Ica senang mendapatkannya.
Senin, 17 Desember 2012
Minggu, 16 Desember 2012
Mama 'ga Boleh Kerja
"Mama 'ga boleh kerja," begitu Ica bilang suatu saat sewaktu aku mau berangkat kerja. Terus aku bilang, "Kalo mama 'ga kerja, nanti mama 'ga punya uang, kan Ica mau beli es krim kacang ijo, mau beli choki-choki, terus uangnya mana?" jawab aku. Tak diduga, Ica mengambil sesuatu dalam tasku. "Ini uang ada," kata Ica sambil mengeluarkan beberapa uang lima ribuan dari dompet yang baru saja diambil dari tasku. Hahahaha, Ica memang pintar.
Minggu, 25 November 2012
Cipika Cipiki Ica
Sungguh Ica memberikan inspirasi buat aku. Sudah beberapa waktu belakangan ini, ketika aku pulang ke rumah, Ica menyodorkan tangannya untuk salaman dan dilanjutkan dengan cium pipi kanan & cium pipi kiri. Setelah itu, aku juga harus salaman sama ayahnya.
Senin, 13 Agustus 2012
Bali Ceria
Foto ini diambil saat aku liburan keluarga ke Bali. Tinggal di sebuah hotel di daerah Legian, dekat dengan Monumen Bom Bali. Saat ittu, kami menjelajahi Bali. Pada siang hari kami mengunjungi tempat2 khas Bali dan pada malam hari kami menikmati pantai di Jimbaran.....mmmmhh.
Pot Pengamanan
Ada nuansa yang berbeda di teras rumahku karena di sana aku memajang pot bunga. Ada tiga pot yang kupajang untuk menghiasi teras rumah, pot dengan pohon bunga Soka, bunga Kaktus, dan satu lagi aku tidak tahu namanya, pohon dengan berdaun merah.
Selain menghiasi teras rumah, pot itu lebih untuk penjagaan terhadap Ica. Saat ini Ica maunya main ke luar rumah, sementara aku tidak selalu memberinya ijin, tentunya tergantung situasi dan kondisi. Pintu pagar besi selalu dikunci gembok, tapi ada dinding tembok dengan lebar sekitar 80 cm yang bisa dipanjat. Di dinding itulah aku memajang pot bunga sebagai pengaman bahwa Ica tidak bisa memanjat dinding tersebut untuk keluar rumah. Maafkan mama, nak.. Bukan maksud mama memenjarakanmu, bukan maksud mama mengurungmu. Mama berusaha untuk mejagamu, melindungimu. Dengan kejadian kemarin lalu, mama lebih menyadari bahwa mama sangat menyayangimu, mama sayang Ica......
Selain menghiasi teras rumah, pot itu lebih untuk penjagaan terhadap Ica. Saat ini Ica maunya main ke luar rumah, sementara aku tidak selalu memberinya ijin, tentunya tergantung situasi dan kondisi. Pintu pagar besi selalu dikunci gembok, tapi ada dinding tembok dengan lebar sekitar 80 cm yang bisa dipanjat. Di dinding itulah aku memajang pot bunga sebagai pengaman bahwa Ica tidak bisa memanjat dinding tersebut untuk keluar rumah. Maafkan mama, nak.. Bukan maksud mama memenjarakanmu, bukan maksud mama mengurungmu. Mama berusaha untuk mejagamu, melindungimu. Dengan kejadian kemarin lalu, mama lebih menyadari bahwa mama sangat menyayangimu, mama sayang Ica......
Minggu, 12 Agustus 2012
Selamat Datang Kembali
Dua tahun sudah aku tidak membuka blog ini, setelah kesibukan2 yang menyita waktu. Kini aku kembali lagi untuk menulis tentang perjalanan perkembangan Ica.
Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 8 Agustus Ica berulang tahun yang ke-5. Usia Ica sekarang lima tahun. Banyak dan sangat banyak cerita pertumbuhan dan perkembangan Ica selama dua tahun ini. Sekarang tinggi Ica sekitar 1,10 meter dengan berat sekitar 20 kg. Ica semakin pintar, aktif, serba pengen tahu, lincah. Alhamdulillah Ica sehat. Sekarang Ica sudah masuk TK.
Sekitar usia 3 tahun, Ica ikut terapi bicara dengan jadwal 2 kali seminggu. Sekarang bicara Ica semakin lancar dan jelas. Secara umum, perkembangan Ica selama ini baik.
Ada peristiwa besar yang terjadi beberapa hari lalu, aku menyebutnya musibah karena sesuatu hal yang tidak mengenakkan. Tepat terjadi pada tanggal 1 Agustus 2012, bulan Ramadhan pula, Ica sempat menghilang tanpa kabar dalam waktu beberapa jam. Ceritanya begini: sekitar jam empat lewat di sore hari, Ica main ke warnet, beberapa menit kemudian aku menyusul kesana tapi Ica sudah tidak ada. Aku, ayahnya, dan Nur mencari Ica ke tempat2 biasa Ica main. Tapi Ica belum ada kabar. Aku mengedarkan foto2 Ica. Sekitar jam 8 malam, ayahnya lapor polisi dan pengurus, aku juga lapor ke erte, singkat cerita kabar hilang Ica benar2 menghebohkan warga kampung. Doa dan air mataku sudah tak perlu dikatakan berapa banyak. Mataku sembab, mulut dan hatiku terus meminta keselamatan Ica. Para tetangga berdatangan. Dan akhirnya, sekitar jam 11 malam, ada telepon dari Polsek yang mengabarkan bahwa Ica ada di sana. Alhamdulillah. Terima kasih, ya Allah. Terima kasih........
Sekarang aku sering terbayang kejadian itu, mungkin syok, mungkin trauma. Aku memasang gelang identitas pada Ica. Dan Ica semakin pintar, kemarin Ica bisa keluar rumah dengan memanjat pagar. Aku tahu Ica kesepian, dia ingin bermain, dia ingin ada teman main. Tapi maafin mama, nak.... Kalo tidak ada yang menemani, mama tidak mengijinkan Ica bermain. Mama tidak mau mengambil resiko kedua. Peristiwa kemarin adalah yang pertama dan terakhir.
Aku sekarang harus punya banyak waktu untuk Ica.
Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 8 Agustus Ica berulang tahun yang ke-5. Usia Ica sekarang lima tahun. Banyak dan sangat banyak cerita pertumbuhan dan perkembangan Ica selama dua tahun ini. Sekarang tinggi Ica sekitar 1,10 meter dengan berat sekitar 20 kg. Ica semakin pintar, aktif, serba pengen tahu, lincah. Alhamdulillah Ica sehat. Sekarang Ica sudah masuk TK.
Sekitar usia 3 tahun, Ica ikut terapi bicara dengan jadwal 2 kali seminggu. Sekarang bicara Ica semakin lancar dan jelas. Secara umum, perkembangan Ica selama ini baik.
Ada peristiwa besar yang terjadi beberapa hari lalu, aku menyebutnya musibah karena sesuatu hal yang tidak mengenakkan. Tepat terjadi pada tanggal 1 Agustus 2012, bulan Ramadhan pula, Ica sempat menghilang tanpa kabar dalam waktu beberapa jam. Ceritanya begini: sekitar jam empat lewat di sore hari, Ica main ke warnet, beberapa menit kemudian aku menyusul kesana tapi Ica sudah tidak ada. Aku, ayahnya, dan Nur mencari Ica ke tempat2 biasa Ica main. Tapi Ica belum ada kabar. Aku mengedarkan foto2 Ica. Sekitar jam 8 malam, ayahnya lapor polisi dan pengurus, aku juga lapor ke erte, singkat cerita kabar hilang Ica benar2 menghebohkan warga kampung. Doa dan air mataku sudah tak perlu dikatakan berapa banyak. Mataku sembab, mulut dan hatiku terus meminta keselamatan Ica. Para tetangga berdatangan. Dan akhirnya, sekitar jam 11 malam, ada telepon dari Polsek yang mengabarkan bahwa Ica ada di sana. Alhamdulillah. Terima kasih, ya Allah. Terima kasih........
Sekarang aku sering terbayang kejadian itu, mungkin syok, mungkin trauma. Aku memasang gelang identitas pada Ica. Dan Ica semakin pintar, kemarin Ica bisa keluar rumah dengan memanjat pagar. Aku tahu Ica kesepian, dia ingin bermain, dia ingin ada teman main. Tapi maafin mama, nak.... Kalo tidak ada yang menemani, mama tidak mengijinkan Ica bermain. Mama tidak mau mengambil resiko kedua. Peristiwa kemarin adalah yang pertama dan terakhir.
Aku sekarang harus punya banyak waktu untuk Ica.
Langganan:
Postingan (Atom)