Masyarakat
Berbagai pertanyaan yang muncul di benak para simpatisannya. Mengapa seorang anak usia sekolah dasar yang notabene masih terbilang “kecil” bisa melakukan perbuatan yang nekad seperti itu? Dijelaskan bahwa perbuatan itu terjadi karena hal yang sepele. Si anak merasa malu terhadap teman-temannya di sekolah karena hanya dia yang belum membayar iuran keperluan sekolah yang besarnya beberapa ribu rupiah saja. Hal ini mungkin sepele, tapi sepele menurut siapa? Apakah sepele menurut si anak itu atau menurut sepele orang lain?
Apapun jawabannya, tetap si anak itu terlanjur melakukannya. Beruntung, dia masih bisa diselamatkan dari kematian yang hampir menjemputnya. Namun, ada dampak negatif yang cukup serius yang menimpanya. Terdapat organ-organ penting yang sangat sulit disembuhkan. Tapi si anak memang beruntung lagi. Dengan simpati yang banyak berdatangan, keluarganya dapat membawa si anak untuk melakukan pengobatan secara intensif. Bahkan keluarganya pun menjadi lebih ”makmur.”
Sekitar setahun setelah peristiwa itu, peristiwa serupa kembali terjadi. Penyebabnya pun karena hal yang sepele. Si anak merasa malu terhadap teman-temannya di sekolah. Simpati pun kembali berdatangan meskipun tidak se-heboh peristiwa pertama.
Masih dalam tahun yang sama, peristiwa serupa terjadi kembali. Lagi dan lagi, pertanyaan yang sama terucap dari banyak pihak. Mengapa seorang anak bisa melakukan perbuatan yang nekad seperti itu? Miris memang, seorang anak yang seharusnya leluasa mengembangkan dirinya malah terbersit dalam hatinya untuk berbuat nekad dan sungguh-sungguh melakukannya. Tercatat sekitar empat peristiwa serupa dalam kurun waktu yang relatif singkat. Ada apa dengan anak-anak Indonesia?
Berdasarkan beberapa peristiwa tersebut, terdapat benang merah yang mungkin menjadi penyebabnya. Anak adalah seseorang yang dengan mudahnya melakukan imitasi terhadap hal yang dilihat dan didengar di sekitarnya. Biasanya perbuatan nekad bunuh diri dilakukan oleh orang dewasa, yang notabene telah mengerti arti hidup. Oleh si anak, perbuatan nekad itu dipikirnya sebagai jalan keluar dari permasalahan yang dihadapinya. ”Saya tidak akan merasa malu lagi kalau sudah tidak ada di sini,” mungkin begitulah pikirnya. Ditambah dengan kurangnya perhatian dari pihak orang tua, si anak menjadi semakin putus asa menghadapi masalahnya. Namun tak dapat dipungkiri bahwa pihak orang tua pun mempunyai banyak permasalahan, biasanya masalah ekonomi mereka sehingga kurang sempat memperhatikan anak-anaknya. Terlebih lagi mereka kurang begitu concern dalam hal pendidikan karena menurut mereka hal itu kurang penting. Jangankan memikirkan pendidikan anak, untuk memikirkan cara mendapatkan uang saja para orang tua itu sudah merasa susah. Alasan mereka pun bisa diterima oleh akal. Mereka ”sibuk” mencari uang untuk memenuhi hidup keluarganya, dengan demikian mereka sedikit melupakan hakekat anak untuk tumbuh dan kembang menjadi pribadi yang harmonis. Dari beberapa peristiwa yang terjadi di atas, si anak memang berasal dari keluarga dengan tingkat ekonomi yang rendah.
Simpati yang berlebihan terhadap korban dan keluarganya bisa menjadi inspirasi bagi orang lain, dalam hal ini bagi anak si calon pelaku perbuatan nekad. Artinya, pernah terjadi peristiwa perbuatan nekad yang dilakukan oleh seorang anak yang kemudian menjadi inspirasi bagi anak lain untuk melakukan hal serupa. Faktor mencari perhatian dari pihak-pihak yang selama ini kurang memperhatikan menjadi penyebabnya. Diharapkan akan ada perhatian dan rasa simpati dari banyak orang apabila melakukan perbuatan yang sama seperti yang diketahuinya dari peristiwa sebelumnya. Sungguh dilematis, sebuah berita yang seharusnya menjadi infomasi sebagai bahan pengetahuan dan pembelajaran bagi khalayak, malah disalahartikan oleh si anak.
Peristiwa perbuatan nekad yang dilakukan oleh seorang anak usia sekolah dasar sudah lama terjadi. Biarlah hal itu menjadi bahan pembelajaran bagi para pemegang wewenang dalam menentukan suatu kebijakan. Mudah-mudahan peristiwa serupa tidak terjadi lagi di masa yang akan datang. Terlebih di masa sekarang ini telah ada kebijakan pemerintah melalui program dana bos bagi semua anak sekolah seluruh Indonesia. Diharapkan anak-anak Indonesia dapat dengan leluasa bersekolah tanpa harus dibebani dengan berbagai iuran yang memberatkan orang tuanya. Dengan demikian, anak-anak Indonesia dapat dengan leluasa mengembangkan dirinya untuk menghadapi hari esoknya.