Bakti Bekti
Dengan baju yang sudah sedikit kumal dan celana panjang yang agak ngatung, Bekti menyusuri jalan setapak yang berliku. Sesekali langkah kakinya terganggu oleh serakan batu kerikil yang menembus jempol kakinya melalui sepatunya yang bolong. Bekti pun menghentikan langkahnya untuk mengeluarkan batu kerikil itu. Tak lama, ayunan langkah kakinya kembali menapaki jalan setapak yang kini sedikit agak menurun. Semakin kakinya melangkah, semakin menurun jalanan yang ditapakinya. Dan akhirnya, langkah Bekti berhenti di tepi sungai.
Tampak rakit bambu bertengger di tepi sungai. Rakit tersebut terhubung dengan bentangan tali yang melintasi sungai sebagai pegangan orang yang hendak menyeberanginya. Rakit bambu tersebut cukup memuat tiga orang dewasa.
Bekti sudah berada di atas rakit. Tiba-tiba dia mendengar suara panggilan. Bekti menoleh ke arah panggilan dan tampak Pak Amir beserta anak lelakinya. Pak Amir adalah seorang buruh tani yang menggarap sawah milik pemuka kampung di seberang sungai.
Bertiga, mereka menyeberangi sungai dengan menggunakan rakit. Tiba di seberang sungai, mereka berpisah menjadi dua arah.
”Ali, kamu berangkat sekolah bersama Pak guru, ya. Bapak mau langsung ke sawah,” ucap Pak Amir kepada anaknya.
”Pak guru, saya titip Ali.” lanjut ucap Pak Amir kepada Bekti.
“Baik, Pak Amir.” Bekti mengangguk tanda setuju.
Bekti dan Ali meneruskan langkah kaki menuju lokasi sekolah yang berada di balik bukit kecil di hadapan mereka. Dengan semangat mereka terus melangkah menyusuri setengah sisa jalan yang harus ditempuh.
Bekti dikenal sebagai guru yang gigih berjuang mendidik anak didiknya tanpa pamrih. Meskipun dia baru setahun membaktikan diri menjadi guru sukarelawan, namun sudah banyak hal yang dilakukannya demi kepentingan keberlangsungan pendidikan di daerahnya. Salah satu hal yang telah dia lakukan adalah membuat rakit bambu untuk kelancaran transportasi antarkampung supaya bisa berhubungan. Lebih dikhususkan lagi bagi anak usia sekolah supaya bisa menjangkau lokasi sekolah yang kebetulan berada di kampung lain.
Sebagai guru yang mengabdi di sekolah yang berada di daerah terpencil, Bekti menyadari bahwa tugasnya sangat berat. Medan yang sulit dijangkau mengharuskan dirinya berjuang secara fisik, kondisi ekonomi para orang tua yang mayoritas menengah ke bawah, anggapan orang tua yang tidak perlu menyekolahkan anaknya dengan alasan membantu orang tua, dan alasan lain yang mengharuskan Bekti memberikan hatinya untuk mereka. Namun, kendala-kendala itu tidak membuat Bekti gentar untuk mewujudkan keinginannya. Satu keinginan Bekti adalah mengajak anak-anak usia sekolah di daerahnya untuk mengeyam pendidikan. Dengan pendidikan, Bekti berharap daerahnya bisa lebih maju dan masyarakatnya bisa lebih pintar.
Kini Bekti dan Ali sudah tiba di sekolah. Mereka berpisah menuju ruangannya masing-masing. Bekti masuk ke ruangan guru, sementara Ali masuk ke ruangan kelas lima.
Selamat berjuang, Pak Guru! Semoga baktimu sungguh-sungguh membuatmu menjadi seorang yang Bekti.
Created by Ine
Tidak ada komentar:
Posting Komentar